Headlines News:
T. Noval Ariandi. Powered by Blogger.

Latest Post

Pram Pernah Bilang “Aceh Punya Keberanian Individu”

Written By T Noval Ariandi on Sunday, 17 June 2012 | 01:57

Pram begitulah sebutan lelaki ini, nama panjangnya Pramoedya Ananta Toer.  

Suatu hari, Pram pernah mengatakan bawah keberanian individu orang Aceh berbeda dengan suku-suku lainnya di Indonesia, yang cenderung berkelompok.

"Saya percaya bahwa Aceh akan bangkit kembali, karena keberanian individual yang dimiliki rakyat Aceh"

Hal itu disampaikan oleh Pram pada acara “80 Tahun Pramoedya Ananta Toer; Orasi Pram: Tsunami Aceh dan Indonesia Masa Depan”, di TIM, Jakarta awal tahun 2005 silam.
Pram sendiri mengaku merasakan kelumpuhan pada dirinya saat serangan tsunami menerjang Aceh. “Saya percaya bahwa Aceh akan bangkit kembali, karena keberanian individual yang dimiliki rakyat Aceh,” ujar Pram.
Penulis buku, yang semua karyanya dilarang beredar oleh pemerintah Orba itu, mengaku sempat didatangi sejumlah tamu asal Aceh, untuk berdiskusi seputar banyak hal. Pada kesempatan itu, Pram ingin meminta maaf pada rakyat Aceh, karena sejak jaman kumpeni (Belanda) sampai sekarang, Jawa telah mengirimkan pembunuh bayaran ke Aceh. “Lebih dari seratus tahun. Saya minta maaf,” kata Pram, lelaki tua asal Blora Jawa Tengah itu, mewakili etnisnya.
Keberanian individu rakyat Aceh itu, menurutnya, terbentuk sejak Belanda menduduki Aceh. Kala itu, Jenderal Van Heusch, yang diangkat jadi Gubernur Aceh, mengakui tak mampu menundukkan Aceh. “Dia hanya membikin Aceh pasif.”
Sedangkan keberanian orang-orang zaman sekarang, diklasifikasikan Pram sebagai keberanian kelompok. Ia mencontohkan, seringnya terjadi tawuran antar-kampung, desa, kelompok, bahkan antar-mahasiswa. “Tidak ada keberanian keberadaban, dan tak ada tertukaran pikiran secara jernih. Tawur adalah tanda keberanian kelompok,” tegas lelaki yang sempat mendekam di LP Pulau Nusakambangan itu.
Di akhir pembicaraan mengenai Aceh, Pram menghimbau pada para sejarawan untuk mencoba kembali menyusun sejarah Aceh. Ia juga berharap, kumpulan sejarah tersebut dapat dijadikan bacaan wajib agar masyarakat tahu keberanian individu yang dimiliki rakyat Aceh.
“Saya yakin, Aceh bangkit kembali. Apa pun yang terjadi,” kata Pram sambil mengepalkan tangan.(Sumber)

Hikayat Perang Sabi “Bukan Sekadar Kata”

Oleh Tri Sahubhi Abdillah - Sastra bagi masyarakat Melayu merupakan bagian dari kehidupan. Nilai-nilai sastra terkandung dalam setiap ucap lampah orang Melayu. Termasuk orang Aceh. Sejarah Aceh telah menunjukan kepada kita, bahwa Aceh telah melahirkan banyak sastrawan yang gemilang. Berbagai jenis karya sastra bisa ditemukan dalam khazanah kesusastraan Aceh klasik.
Hamzah Fanshuri kita kenal sebagai “Bapak Kesusastraan”.Lantas kita pun mengenal Ar-Raniri sampai A. Hasjmy. Jenis sastra Aceh pun beragam. Ada habo (khabar), pantun, syair, hikayat, dan lainnya.
Salah satu yang istimewa dari khazanah kesusastraan Aceh ialah banyaknya sastra yang menggelorakan semangat jihad fi sabilillah. Contoh dari karya jenis tersebut antara lain Hikayat Prang Peuringgi, suatu karya sastra perang yang bertujuan membangkitkan semangat jihad rakyat Aceh untuk melawan Portugis. Ada pula, Hikayat Prang Kompeuni, karya seorang ulama bernama Abdul Karim atau lebih dikenal sebagai Do Karim. Selain itu kita mengenal Hikayat Prang Sabi karya Teungku Chik Pantee Kulu. Karya terakhir merupakan karya luar biasa yang telah menggelorakan semangat rakyat Aceh untuk senantiasa tabah dan berani melawan Belanda.
Chik Pantee Kulu merupakan seorang ulama yang lama tinggal di Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu. Di tanah suci beliau banyak membaca karya epos perang di zaman Rasul, seperti Hikayat Perjuangan Hasan bin Tsabit, Hikayat Pejuang Khalid Bin Walid, Hikayat Perjuangan Kaab bin Zubair, dan Kepemimpinan Umar bin Khaththab, yang semuanya tertuang dalam syair-syair berbahasa Arab yang bercita rasa sastra tinggi.
Chik Pantee Kulu mengetahui Aceh dianeksasi Belanda pada Januari 1873. Pada 1881 penyair ini pulang ke Aceh dengan menumpang kapal laut. Di perjalanan ia menulis Hikayat Prang Sabee (Hikayat Perang Sabi).
Hikayat Perang Sabi terdiri dari pendahuluan (mukadimah) dan empat bagian isi. Bagian pendahuluan menunjukan tujuan ditulisnya hikayat dan seruan untuk perang di jalan Allah melawan kafir (Kaphe) Belanda. Disebutkan juga barang siapa yang syahid di dalam perang Sabil akan masuk surga dan disambut oleh bidadari (Mardhiyah).
Bagian selanjutnya ialah Kisah Ainul Mardhiyah. Bagian ini berkisah tentang penyambutan ratu bidadari surga bagi mereka yang syahid dalam perang di jalan Allah. Diceritakan seorang pemuda yang bermimpi bertemu Ainul Mardhiyah di surga. Keesokan harinya sang pemuda dengan tanpa gentar maju ke medan perang. Ia pun syahid dan benar-benar bertemu dengan Ainul Mardhiyah.
Kisah kedua ialah Kisah Pasukan Gajah yang bertutur kegagalan pasukan bergajah untuk menghancurkan Kabah pada 570 M. Dikisahkan Kota Mekah diserang oleh Kerajaan Habsyah dan sekutu-sekutunya dengan tentara bergajah. Ketika sampai di Mekah pasukan bergajah diserang penyakit dan akhirnya gagal meruntuhkan Kabah.
Kisah ketiga ialah Kisah Said Salmy. Diceritakan seorang pemuda yang buruk rupa yang beristrikan seorang putri cantik rupawan. Pemuda bernama Said Salmy tersebut lantas pergi ke medan jihad. Dalam peperangan Said Salmy syahid di jalan Allah. Namun ia “hidup” kembali sebagai pemuda tampan dan setiap malam ia muncul untuk menemui sang istri.
Kisah terakhir ialah Kisah Budak Mati Hidup Kembali yang bercerita tentang pahala seorang mujahid yang kembali dari medan perang. Allah menghidupkan kembali anak yang sang mujahid pertaruhkan sebelum berangkat ke medan pertempuran.
Walaupun tiga kisah selain Kisah Pasukan Bergajah merupakan sebuah rekaan (fiksi) tetapi semuanya dapat membangkitkan semangat dan menggelorakan Muslim Aceh untuk berlaga di medan jihad. Para pejuang Aceh datang ke Medan laga dengan menanggalkan rasa takut terhadap kematian. Mereka menerjang bahaya dengan suka cita. Cinta kepada Allah telah meruntuhkan cinta kepada hidup dan dunia.
Gelora juang dan ketabahan Rakyat Aceh dalam perang melawan Belanda tentu, sedikit banyak, saja dipengaruhi Hikayat Perang Sabi. Di sinilah tergambar sesunggunya bahasa memiliki kekuatan lain selain alat untuk berkomunikasi. Hikayat Perang Sabi bukanlah sekadar kata-kata. Sastra ini telah merangsang kesadaran manusia untuk meraih akhirat dan tidak mengagungkan dunia.
Sastra tentu saja bukan sekadar keindahan dan hiburan. Terdapat fungsi-fungsi lain dari sastra yang bersifat transendental, fungsi-fungsi yang malampaui nilai-nilai materi.
Dunia sastra hari ini sesungguhnya memiliki tugas yang sama dengan Hikayat Perang Sabi. Sastra seharusnya bisa mengabarkan kenyataan dan mendorong kesadaran keagamaan manusia. Keindahan kata-kata dapat mengantarkan manusia pada penghayatan semesta.
Kondisi dunia hari ini sungguh membutuhkan karya sastra semacam Hikayat Perang Sabi. Kaum Muslimin, terutama kaum muda, telah lama dilenakan oleh karya seni yang hanya melenakan dan membuat lupa. Banyak muslim yang terpuruk dan kurang bersemangat dalam menghadapi persoalan-persoalan. Kata-kata dalam karya sastra seharusnya mampu membangkitkan semangat mereka. Kata yang bukan sekadar kata. Hikayat Perang Sabi: Bukan Sekadar Kata. (Sumber)

300 Tahun Menerapkan Syariat Islam di Aceh Singkil

Bagi masyarakat di Kabupaten Aceh Singkil, Propinsi Aceh, melaksanakan Syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari bukanlah hal baru, tetapi sudah dipraktekkan sejak 300 tahun lalu.
Masyarakat di wilayah pesisir pantai selatan Aceh itu melaksanakan Syariat Islam setelah mereka mempelajari ajaran Islam yang dikembangkan dua ulama besar, Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Syekh Hamzah Fansuri.
Bupati Kabupaten Aceh Singkil, H Makmursyah Putra mengatakan, kehadiran kedua ulama besar dari jazirah Arab itu telah berhasil menyadarkan masyarakat dengan menjadikan Syariat Islam sebagai pedoman dalam mengharungi hidup.
Adat-istiadat (budaya) yang berkembang di masyarakat Aceh Singkil kini, mulai dari sunah rasul (khitanan) dan adat perkawinan hingga turun tanah anak bayi (“cuko ok” sebutan di Aceh) semuanya berakar dari ajaran Islam.
Ia menyebutkan contoh adat perkawinan. Bagi pengantin wanita sebelum melangsungkan akad nikah terlebih dahulu diuji kemampuan membaca Al-Quran secara benar (dalam adat masyarakat Aceh Singkil disebut malam khatam Al-Quran).
Dari tradisi itu telah menggugahkan semua generasi muda di daerah ini (perempuan dan laki-laki) untuk belajar agar mampu membaca Al-Quran karena mereka khawatir ditunda akad nikah menjelang pesta adat perkawinan nanti.
Identitas Islam lainnya juga terlihat dari cara kaum wanita di Aceh Singkil berpakaian sehari-hari, termasuk anak baru gede (ABG), yakni merasa kurang percaya diri (pede) keluar rumah sebelum mengenakan pakaian muslimah.
Aceh Singkil yang memiliki luas 3.964 Km persegi dengan penduduk 112.556 jiwa itu memperoleh peningkatan status menjadi Kabupaten April 1999, setelah sebelumnya tergabung dalam Kabupaten Aceh Selatan.
“Yang menarik, meskipun wilayah Singkil dihuni berbagai suku di Sumatera, seperti Alas, Fak-fak, Aceh, Nias, Padang, Melayu dan Batak, namun 97 persen mereka menganut Islam,” kata Makmursyah Putra.
Pembauran tujuh suku bangsa di wilayah itu bukan saja ikut mempengaruhi adat dan budaya, tetapi juga telah melahirkan bahasa yang berbeda dengan masyarakat di Aceh lainnya, lebih dominan digunakan bahasa Singkil serumpun–Alas dan Fak-fak serta bahasa pesisir mirip Minang.
“Dari pembauran etnis itu juga telah melahirkan gaya dielek masyarakat Aceh Singkil yang khas,” katanya.

Tidak Pede tanpa Jilbab

Gubernur Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam waktu itu, -red) H Abdullah Puteh pada awal tahun 2002 telah mengumumkan diberlakukan Syariat Islam di seluruh wilayah daerah itu bertepatan diberlakukannya otonomi khusu yang tertuang dalam UU Nomor.18/2001.
Dasar lain yang mewajibkan masyarakat untuk di wilayah ujing paling Indonesia itu melaksanakan Syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, setelah pemerintah pusat menerbitkan UU Nomor.44 tahun 1999 tentang pengisian tiga “Keistimewaan Aceh”.
Sebelumnya, masyarakat Aceh telah puluhan tahun memperoleh gelar tiga “Istimewa”, yakni di bidang Agama (Islam), pendidikan dan adat-istiadat, namun kenyataan sehari-hari tidak terasa perbedaannya dengan daerah lain di Indonesia.
“Kita harus bersyukur, Aceh merupakan satu-satunya provinsi yang dibenarkan pemerintah pusat melaksanakan Syariat Islam secara kaffah,” kata Abdullah Puteh.
Pemandangan di Aceh saat ini, sebagian besar kaum perempuan muslim telah menyahutinya ditandai meningkatnya kesadaran mereka, terutama cara berpakaian mulai terbiasa mengenakan pakaian muslimah, berbeda dengan sebelumnya.
Meskipun pemandangan pakaian ketat masih menjadi tradisi kaum perempuan muda di Aceh, namun secara perlahan-lahan mereka mulai tidak berani lagi tampil di hadapan umum, jika tidak menutup kepala (berjilbab).
Kenyataan itu terlihat, kini tidak ada lagi pelajar wanita, baik tingkat SLTP, SLTA maupun mahasiswa yang tidak menutup kepala di kampus–walaupun sekolah umum, kecuali bagi anak wanita non-muslim.

Tak Dapat Ditawar

Seorang wanita Aceh Singkil yang tergabung dalam Majelis Taklim, Ny Wardiyah (45) mengatakan, bagi kaum perempuan di daerahnya, pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari sudah dilkaukan secara turun-temurun.

"Yang jelas, Syariat Islam sudah menghiasi kehidupan sehari hari masyarakat Aceh Singkil, mulai duduk-berdiri, tidur-bangun, makam-minum, cara berpakaian, jual-beli, berkomunikasi hingga menghias diri"

Ketaatan masyarakat di Aceh Singkil terhadap ajaran Islam, termasuk kaum perempuan, tidak perlu diragukan lagi, seperti menghadiri pesta perkawinan (alek baik) dan melayat setiap keluarga yang meninggal dunia (alek buruk).
“Yang lebih kental lagi dalam hal pembagian harta warisan akan selalu berpedoman kepada ajaran Islam (Al-Quran dan Hadits nabi),” kata Mandewar–panggilan akrab Ny. Wardiyah.
Penduduk Aceh Singkil saat ini boleh dikatakan semuanya pemuluk ajaran Islam (97 persen), selebihnya mereka menganut Agama Kristen, namun mereka tetap hidup rukun dalam suatu bingkai pergaulan saling menghormati.
Tempo dulu, Singkil yang memiliki kerajaan-kerajaan kecil yang sebar mulai dari timur (berbatasan dengan Kerajaan Barus-Tapanuli Tengan, Sumut) hingga ke utara Mancopa atau Daya (Meulaboh, Aceh Barat) semuanya menganut ajaran Islam.
Masyarakat Aceh Singkil hingga kini tetap mengikuti suri teladan pemimpin regilius mereka (Syekh Abdurrauf As-Singklil dan Syekh Hamzah Fansuri) sebagai pemodanan dalam segela aspek hidup dan kehidupan mereka sehari-hari.
Ajaran Islam yang tumbuh berakar di kalangan masyarakat Aceh Singkil tidak hanya mempelajari Islam sebagai aqidah dan ajaran semata, tetapi juga mempelajari Islam sebagai sebuah organisasi menguasai gerak dan diamnya seorang muslim, yakni menguasai jalan pikiran, niatnya, perkataan, perbuatan serta hidup qaib dan hidup nyata.
“Yang jelas, Syariat Islam sudah menghiasi kehidupan sehari hari masyarakat Aceh Singkil, mulai duduk-berdiri, tidur-bangun, makam-minum, cara berpakaian, jual-beli, berkomunikasi hingga menghias diri,” kata Mandewar.
Pendekatan regilius dalam kehidupan sehari-hari di Aceh Singkil tidak radikal, tetapi sangat demokrat sehingga ajaran Islam dapat diterima dan saling menghormati dengan ajaran agam lain mengikuti jejak ulama sebelumnya.
Menurut Mandewar, dalam tradisi masyarakat di wilayah Aceh Singkil sejak dulu hingga saat ini, doktrin bahwa aqidah mempercayai dan mengamalkan ajaran Islam merupakan keputusan final yang tidak dapat ditawar-tawarkan lagi. (Syahruddin Hamzah, Ant/Gatra)

Kopi Gayo, Warisan yang Menghidupi

Daerah yang dekat laut sudah pasti identik dengan kuliner bahan laut. Di Lhokseumawe, Aceh, sebuah restoran di tepi laut bernama Pondok Bahari bisa menjadi pilihan untuk berwisata kuliner.
Letaknya persis di tepi laut tanpa pantai. Ya, sejak tsunami melanda Aceh di tahun 2004, Lhokseumawe kehilangan pantai berpasir dan tergantikan dengan batu-batu penahan ombak. Pondok Bahari berada di Jalan Samudra Lama, Hagu Selatan.

"Terong yang mudah menyerap bumbu, menghasilkan paduan rasa gurih, asam, pedas, namun terasa menyegarkan"

Menu wajib tentu saja ikan bakar. Anda bisa memilih ikan segar yang baru dibeli di pasar ikan. Paling sering yang dipesan tentu saja ikan bakar. Bumbunya relatif sederhana, hanya garam, merica, dan sentuhan sambal tomat.
Di Pondok Bahari, coba juga menu Terong Sambal dan Ikan Asin Goreng Asam Cabe Rawit. Walaupun namanya Terong Sambal, namun rasanya tidak terlalu pedas. Ya, kuliner Aceh identik dengan pedas lada dibanding pedas cabai.
Terong yang mudah menyerap bumbu, menghasilkan paduan rasa gurih, asam, pedas, namun terasa menyegarkan. Teksturnya yang lembut, menjadikan menu ini cocok sebagai sambal teman ikan bakar.
Sementara menu ikan asin juga tak boleh terlewatkan. Luarnya garing sementara potongan ikan asin begitu tebal, hingga tekstur di dalamnya terasa lembut nan padat. Tak terlalu asin dan selintasan rasa asam dari tomat dan pedas cabai rawit.
Sedangkan untuk minuman, coba pesan Kopi Gayo Blender Dingin. Ada beragam menu minuman kopi di Pondok Bahari. Sebagai teman santap di siang hari, pilih minuman kopi dingin. Kopi Gayo Blender Dingin sederhana saja.
Kopi Gayo diseduh dengan gula seperti biasa. Lalu kopi diblender hingga berbuih. Baru kemudian ditambahkan es batu. Es batu tidak ikut diblender. Hasilnya? Ahhh segarnya. Sesaat kopi hitam itu seperti cappucino lengkap dengan buihnya.
Jika Anda tidak suka manis, jangan lupa memesannya dengan gula setengah. Sebab, orang-orang Lhokseumawe umumnya suka minuman manis. Di area rumah makan juga terdapat organ untuk bernyanyi semacam karaoke. Putus urat malu Anda dan bernyanyilah untuk tamu lainnya. (kompas/Ni Luh Made Pertiwi F)

Chef Farah Quinn Kagumi Aceh dan Kulinernya

Banda Aceh – Siapa yang tak kenal dengan pembawa acara Ala Chef di salah satu TV swasta ini, Farah Quinn atau yang bernama lengkap Farah Fauzan Quinn, wanita kelahiran Bandung 32 tahun yang silam ini menginjak kaki di Banda Aceh, Senin (28/5) lalu.
Kekaguman koki sekaligus model cantik tersebut terhadap Aceh begitu terlihat di akun Twitternya.
“I must say, baru bbrp jam sampe, aku benar2 suka sama Aceh. Penduduknya super ramah n semuanya pecinta kuliner. Smua ibu2 disini jago masak”, tulis pemilik akun @quinnfarah. Amantan SeputarAceh.com, si pemilik restoran “Camus” di Phoenix, Arizona, Amerika tersebut begitu menikmati kunjungannya ke Aceh sembari berwisata kuliner. “Aku baru cobain masakan Aceh, ada ikan kayu, kuah gule, telur penyu, sambal udang asam sunti, dll. Dangerous!”, ujarnya sambil memamerkan foto disalah satu restoran di Banda Aceh.
Tidak ketinggalan, Warung Kopi Solong, Ulee Kareng juga menjadi pilihannya untuk menikmati kopi Aceh lengkap dengan penganan kue thimpan yang terkenal seantero Aceh. “Aku cobain kopi Aceh n kue2 traditional di Warkop Solong. I’m in ♥ with kue timpan n roti jala isi srikaya!”, ungkap Farah di Twitter yang ramai di RT oleh followernya.
Farah terlihat sangat akrab bersama penggemarnya, beberapa fotonya disela-sela pengambilan gambar untuk acara TV yang telah digelutinya sejak 2008 lalu juga turut dirasakan senang oleh pemilik akun @SyarifahMunira.
“Seneng ketemu mbak @quinnfarah”, tulisnya singkat di Twitter.(Sumber)

Menikmati Sambal Khas Tapaktuan di Ho Chi Minh City

Oleh: Muhammad Ali

Bahwa beberapa jenis masakan khas Aceh telah dikenal di seantero Tanah Air, beberapa di antaranya yang paling popular seperti gulai pliek atau mi Aceh dengan ciri khas saus kental maupun kari kambing, harus diakui telah ikut memperpanjang daftar keaneragaman masakan khas Tanah Air.
Namun dari jenis-jenis yang sudah dikenal itu, jika ditelusuri di dalam daftar jenis masakan khas Aceh ternyata masih banyak lagi jenis masakan spesifik dari daerah-daerah tertentu di Provinsi Aceh yang selama ini masih berada di dalam catatan “kekayaan terpendam” karena belum begitu dikenal luas. Dengan keistimewaan cita rasa maupun keunikannya, masakan-masakan yang belum begitu dikenal luas itu diperhitungkan akan mampu mengambil tempat di dalam daftar masakan populer.
Dari banyak daerah yang masing-masing memiliki makanan khas itu, tersebutlah Tapaktuan, Ibukota Kabupaten Aceh Selatan yang diketahui memiliki berbagai jenis masakan khas yang akhir-akhir ini mulai dikenal. Di antaranya, ikan panggang khas yang di Tapaktuan dikenal dengan nama lauk panggang pacak (ikan panggang bumbu santan), lauk sambam (ikan panggang bungkus daun pisang yang disantap pakai sambal kecap).
Ada lagi, gulai talas, gulai pakis, gulai pakasam (gulai tempoyak) maupun gulai durian segar serta urap Aceh dengan bahan dasar bunga dan daun kates dengan formula kelapa gongseng dibumbui rajangan serai, belimbing wuluh serta bawang merah. Dan untuk jenis sambal, yang paling populer adalah samba batokok dan samba gunung runtuh.

Menggugah Selera

Samba batokok adalah sambal ikan teri kering gongseng yang dimemarkan seperlunya di batu gilingan cabe dengan bumbu dasar asam sunti, cabe merah, bawang merah yang dihaluskan kemudian ditumis. Uniknya samba gunung runtuh ternyata begitu sederhana hanya dengan bahan dasar kelapa parut dicampur cabe hijau atau cabe merah. Dan bila ditempatkan di dalam wadah, kelapa parut yang sudah diolah menjadi sambal yang menggugah selera itu bentuknya mirip onggokan gunung. Dan “gunung” itu kemudian runtuh ketika diciduk pakai sendok, maka disebutlah dia samba gunung runtuh.
Menurut seorang dosen Akademi Pariwisata (Akpar) Medan, Kodrat Wisnu, selama beberapa kali berkunjung ke Tapaktuan dirinya mengaku ada beberapa jenis masakan khas Tapaktuan yang memiliki potensi untuk ditonjolkan dan berpeluang disusupkan di dalam daftar kekayaan wisata kuliner. Dan jika ini mampu dieksploitasi, artinya Tapaktuan tidak hanya memiliki kekayaan objek wisata alam yang indah, tapi juga pengunjung sekaligus dapat menikmati aneka jenis masakan nikmat.
Kodrat Wisnu yang populer dengan panggilan Babe mengungkapkan itu ketika melakukan kunjungannya ke Lhok Rukam April lalu dalam misi Akpar melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat bersama tujuh dosen lainnya.
Akpar Medan menilai Gampong (desa) Lhok Rukam merupakan satu dari banyak objek menarik di Kecamatan Tapaktuan, Ibukota Kabupaten Aceh Selatan, yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi daerah kunjungan wisata. Menurut Babe, potensi Lhok Rukam cukup bagus dan diyakini memiliki prospek, tinggal lagi apa yang harus dilakukan untuk menarik orang berkunjung ke sini. Ya salah satunya adalah wisata kuliner, apalagi Lhok Rukam merupakan desa nelayan yang setiap harinya dibanjiri ikan segar. “Ikan ikan itu bisa diolah sebagai bahan dasar masakan khas,” katanya.

Populer di Luar Negeri

Menurutnya, dia punya kesan tersendiri terhadap samba gunung runtuh dan samba batokok yang digemarinya. Dalam beberapa kali kunjungan ke Tapaktuan, selalu saja sambal itu yang dia cari dan sering didapati di Lhok Rukam.
Namun yang mengagetkan adalah, pada beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke Vietnam, dia juga mendapati samba gunung runtuh dan samba batokok di sebuah rumah makan di kota Ho Chi Minh. “Dan di rumah makan tersebut, sambal ini ternyata mendapat tempat sebagai masakan populer yang digemari pelanggan,” ungkapnya.
Ini membuktikan dua jenis masakan khas Tapaktuan itu diam-diam ternyata sudah dikenal pula di luar negeri. Berangkat dari kenyataan ini, dia semakin yakin bahwa kedua jenis sambal spesifik itu berpeluang mendapat tempat di dalam daftar bisnis kuliner melengkapi paket-paket kunjungan wisata Tapaktuan di masa depan. Babe benar dengan keyakinannya yang rasional.
Namun pertanyaan selanjutnya adalah, apakah Dinas Pariwisata Aceh Selatan mampu berpikir dan berbuat untuk pengembangan wisata model begini. Sekarang saja orang mulai pesimis melihat beberapa proyek wisata yang digarap Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) terancam gagal dengan dana milyarar akibat tanpa konsep yang jelas.
Lalu, menurut para pemerhati, seperti diungkapkan Drs. Joniardi Yunus, rumusan yang paling tepat sebetulnya adalah soal mau atau tidak mau. Jika mau, tentunya harus dibekali niat baik dan ikhlas demi kemajuan daerah dan perkembangan ekonomi kemasyarakatan. “Sayangkan, miliaran rupiah uang terbuang begitu saja tanpa jelas kelanjutan programnya,” ungkap Joniardi. (Sumber)

Banda Aceh, Kota Indah Penuh Sejarah

Saat traveling ke ujung barat Indonesia, mampirlah ke Banda Aceh. Ibukota dari Propinsi Aceh tersebut mempunyai banyak sejarah, seperti kerajaan Islam hingga peristiwa tsunami. Alamnya pun tak kalah indah.
Aceh merupakan gerbang wisata di pintu bagian barat Indonesia. Dengan aneka destinasi wisata, sejarah, dan budaya, tidak sedikit traveler yang berkunjung ke Kota Serambi Mekah tersebut.
Saat berkunjung ke Banda Aceh, Anda akan merasakan budaya Islam yang khas dan kental. Masyarakatnya yang berpakaian sopan dan gema suara adzan saat memasuki waktu salat akan terdengar di setiap pelosok Kota Banda Aceh. Sebab, pada zaman dulu wilayah Banda Aceh pernah berdiri Kerajaan Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh yang bercorak Islam
Masjid Raya Baiturrahman pun menjadi kebanggan masyarakat Banda Aceh. Anda juga bisa mengunjungi masjid ini yang berlokasi di pusat kota Banda Aceh. Masjid ini tampak begitu megah dan menjulang tinggi. Tempat ini juga pusat bagi beragam aktivitas dan keorganisasian para pemuda.
Luasnya mencapai empat hektar dengan tujuh kubah, empat menara, dan satu menara induk, menjadikan masjid ini sebagai salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara. Selain menunaikan ibadah salat, Anda pun dapat bersantai di halaman masjidnya dan melihat melihat Kota Banda Aceh dari ketinggian 60 meter melalui menara masjidnya.
Salah satu sejarah yang erat dengan Banda Aceh adalah peritiwa tsunami tahun 2004 lalu. Peristiwa pilu yang menwaskan ratusan ribu orang tersebut, membuat dunia dan siapapun bersedih. Dengan kekuatan gempa 8,9 SR dan dilanjutkan dengan tsunami, membuat Kota Banda Aceh porak poranda.
Anda bisa mengenang kembali peristiwa tersebut yang terekam di Museum Tsunami Aceh. Museum ini menyimpan foto-foto korban peristiwa tsunami Aceh, nama-nama korban yang terpampang di sekitar dinding, dan informasi yang merekam kejadian tsunami. Museum ini juga memiliki jembatan perdamaian, yang di atasnya terdapat bendera-bendera berbagai negara yang memberikan bantuan dan bertuliskan damai dalam bahasa negara tersebut.
Anda dapat mempelajari pengetahuan tentang tsunami dan tahap-tahap penyelamatannya di dalam museum ini. Museum ini juga menjadi simbol kekuatan masyarakat Aceh, warisan bagi generasi mendatang dan menjadi tempat evakuasi jika terjadi bencana tsunami serupa.
Puas mempelajari sejarah dan budayanya, saatnya bersantai di tepian pantai. Terletak 20 km dari pusat kota, terdapat Pantai Lhoknga yang berpasir putih. Meski terkena dampak tsunami, pantai ini masih menyimpan keindahan. Pantai berpasir putih, bebatuan dan lautan biru akan memanjakan Anda. Suasana pantai yang khas ala barat Indonesia.
Berkunjung ke Banda Aceh akan menjadi pengalaman yang berharga. Ada banyak sejarah hingga budaya yang dapat Anda pelajari. Tak ketinggalan, wisata kuliner khas Aceh dapat Anda coba di kota ini. Selamat berkunjung ke Banda Aceh.(Sumber)

Peran Jepang dalam Penyelamatan Naskah Kuno

Oleh: Pramono
Sumatera, khususnya Aceh dan Sumatera Barat merupakan wilayah penting tempat asal (sumber) naskah kuno di Indonesia.
Di wilayah ini banyak ditemukan skriptorium sebagai pusat kecendekiaan orang-orang Sumatera ratusan tahun yang lalu. Naskah yang ditulis di Aceh juga banyak ditemukan di Sumatera Barat. Selain sudah banyak yang sudah menyeberang ke berbagai penjuru dunia, ribuan naskah kuno masih tersebar di tangan masyarakat di Pulau Andalas ini. Selain itu, dalam jumlah yang jauh lebih kecil naskah kuno di wilayah tersebut juga tersimpan di berbagai perpustakaan dan museum di masing-masing provinsi.
Sayangnya, kondisi ribuan naskah kuno yang masih tersebar di tangan masyarakat itu sudah banyak yang rusak atau mendekati kerusakan. Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan itu terjadi, terutama faktor sikap pemilik naskah, umur naskah, cuaca dan benca­na alam. Faktor lain yang juga sangat mengancam keberadaan naskah-nas­kah kuno itu adalah adanya praktik perdagangan naskah.
Ribuan naskah kuno yang mengan­dung teks yang beragam, seperti keaga­maan, kesejarahan, kesenian, kesusas­traan, politik, hukum, adat-istiadat, dan folklor belum terkelola secara baik. Kondisi tersebut diperparah dengan kebiasaan para peneliti naskah kuno di Indonesia yang sampai saat ini masih banyak yang lebih mementingkan kajian teks atau isinya. Persoalan yang berkai­tan dengan preservasi dan konservasi naskah kuno lebih sering terabaikan.
Bukankah sumber naskah kuno hanya dapat diacu apabila sumber itu telah dilestarikan dan diselamatkan? Dengan kata lain, penelitian terhadap naskah kuno baru dapat dilakukan apabila kondisi fisik maupun tulisan tidak mengalami kerusakan. Bagaimanapun juga naskah-naskah kuno merupakan kekayaan budaya bangsa yang sangat penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah dan keilmuan.

"baik di Suma­tera Barat maupun di Aceh, saat ini sudah banyak saja masyarakat pemilik naskah kuno yang bisa memperbaiki naskah-naskah kuno yang rusak serta tahu cara pemeliharaannya"

Sebagai warisan budaya tertulis, naskah-naskah kuno merupakan khaza­nah budaya yang penting baik secara akademis maupun sosial budaya. Secara akademis melalui naskah-naskah itu dapat diungkap nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan sekarang. Secara sosial budaya, naskah-naskah itu meru­pakan identitas, kebanggaan dan wari­san yang berharga. Naskah merupakan hasil kegiatan intelektual dalam masya­rakat tradisional (local genius).
Dengan demikian, sebenarnya nas­kah kuno dapat dikelola dan dikem­bangkan untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan ma­sya­rakat luas. Hal ini mengingat bahwa dewasa ini peradaban umat manusia telah memasuki peradaban yang lazim disebut dengan Era Ekonomi Kreatif. Di era ini kebudayaan dapat menjadi sebuah deposit mata tambang yang baru jika dikelola secara baik (PaEni, 2009). Kesejahteraan dalam konteks ini tidak hanya selalu diartikan sebagai peme­nuhan dan peningkatan perekonomian semata, tetapi bisa dimaknai sebagai kesejahteraan untuk pemenuhan kebu­tuhan akan infor­masi dan ilmu pengetahuan.
Dalam konteks penyelamatan nas­kah-naskah kuno di Sumatera Barat dan Aceh, Jepang adalah salah satu negara yang intens dan signifikan dalam mem­berikan bantuan, baik bantuan teknis maupun nonteknis. Dari bantuan pihak Jepang lah, terbit tiga katalog naskah-naskah kuno yang terdapat di Sumatera Barat dan Aceh. Melalui bantuan Centre for Documentation and Area-Trans­cultural Studies (C-DATS) Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Jepang, pada 2006 terbit Katalogus Manuskrip dan Skriptorium Minang­kabau yang memuat deskripsi 280 naskah kuno Minangkabau, disusul Katalog Naskah Ali Hasjmy Aceh pada 2007 yang memuat deskripsi 232 naskah kuno koleksi Yayasan Pen­didikan dan Museum Ali Hasjmy (YPAH), Aceh dan pada 2010 terbit pula Katalog Naskah Tanoh Abee, Aceh Besar yang berisi deskripsi 280 naskah kuno koleksi Dayah Tanoh Abeh.
Selain bantuan dalam penerbitan kata­log, pihak Jepang juga beberapa kali mengadakan pelatihan konservasi naskah kuno, baik di Padang (pada 2010 dan 2011) maupun di Banda Aceh (pada 2007 dan 2011). Dalam pelatihan tersebut dihadirkan dua ahli dari Arsip Nasional Jepang, yakni Bapak Itaru Aritomo dan Ibu Ikuko Nakajima. Kedua ahli ini mengajarkan cara mem­per­baiki naskah-naskah kuno yang rusak, meliputi tsukuroi dan urauchi (teknik penambalan kertas naskah yang sobek dengan menggunakan kertas washi), pembersihan naskah dari jamur, penjilidan dan pembuatan kotak penyimpanan naskah kuno dari bahan kertas yang tidak mengandung zat asam.
Semua peralatan dan perlengkapan didatangkan langsung dari Jepang untuk keperluan pelatihan. Pelatihan ini diikuti oleh mahasiswa, peneliti naskah dan sebagian besar para pemilik naskah kuno. Dengan demikian, baik di Suma­tera Barat maupun di Aceh, saat ini sudah banyak saja masyarakat pemilik naskah kuno yang bisa memperbaiki naskah-naskah kuno yang rusak serta tahu cara pemeliharaannya.
Selain itu, beberapa intitusi di Jepang seperti Agency for Cultural Affairs Japan, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), National Archives of Japan, National Research Institute for Cultural Properties (NRICP), Tokyo dan Japan Foundation mengundang bebe­rapa orang dari Padang dan Aceh untuk mengikuti pelatihan konservasi naskah kuno di Jepang. Misalnya, pada 2008, dua orang staf Museum Aceh, Yudi Andika dan Rini Rofini diundang ke Jepang selama kurang lebih dua bulan untuk mengikuti pelatihan konservasi naskah kuno di Arsip Nasional Jepang di bawah bimbingan Bapak Itaru Arito­mo dan Ibu Ikuko Nakajima.
Masih dalam bimbingan kedua ahli ini, pada saat ini (9 Mei–22 Juni 2012) juga sedang dilatih dua orang dari Padang dan dua orang dari Banda Aceh. Dari Padang, yang mendapat kesempatan mengikuti pelatihan tersebut adalah saya sendiri dan Suhirman (staf Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat). Adapun dari Aceh adalah Mujiburahman dan Salman, ke­duanya adalah dosen IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan juga aktivis Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh.
Keseriusan pihak Jepang tersebut sudah mestinya diapresiasi oleh peme­rintah daerah, baik Sumatera Barat maupun Aceh. Benar bahwa sudah ada kepedulian kedua pemerintah daerah dalam upaya pelestarian dan penye­lamatan naskah-naskah kuno.
Pemda Sumatera Barat, semenjak tahun 2008 sudah menganggarkan dana yang dike­lola Badan Perpustakaan dan Kearsipan nya melalui kegiatan Alih Media Naskah Kuno. Akan tetapi, agaknya besaran alokasi dananya jauh dari ideal, hanya berkisar 150 juta setiap tahunnya. Agak berbeda dengan Aceh, pascagempa dan Tsunami tahun 2004, dengan penda­naan Badan Rehabilitasi dan Rekons­truksi (BRR) berhasil mengum­pulkan 2000-an naskah kuno yang saat ini tersimpan di Museum Aceh.
Pemda Aceh sendiri sejak 2008 mengalo­kasikan dana sebesar 400 juta untuk konservasi naskah kuno yang dikelola PKPM Aceh setiap tahunnya. Besaran alokasi ini belum termasuk alokasi dana yang disediakan untuk museum nya yang juga untuk kegiatan penyelaman naskah-naskah kuno. Dengan ribuan naskah kuno yang masih tersebar di tengah masya­rakatnya, jumlah dana yang dialokasikan pun masih belum mencukupi.
Di Sumatera Barat juga terdapat seribuan naskah kuno yang masih tersebar dan dikoleksi masyarakat secara pribadi dan kaum. Dengan demikian, Pemda Sumbar sudah sela­yak­nya mengkaji ulang kebijakan pe­nga­lo­kasian dana untuk penyela­matan kekayaan khazanah budaya tertulisnya. Selain itu, Badan Perpus­takaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat juga harus memikirkan untuk merekrut pegawai yang memiliki kompetensi di bidang pernaskahan. Salah satunya adalah dengan memberi kesempatan alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas untuk mengabdi di instansi tersebut. Hal ini karena alumni prodi ini banyak yang memiliki kompetensi bidang pernas­kahan, baik kompetensi digitalisasi, katalogisasi dan penelitian isi naskah-naskah kuno Minangkabau. (Padang Ekspres)

*Penulis:
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

‘Khenduri Apam’ Juga Disukai Wisatawan Jerman

Banda Aceh — Masyarakat Peduli Sejarah (MAPESA) bersama keluarga dari cucu dan cicit dari Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah mengadakan khenduri apam yang bertempat di Museum Aceh, Banda Aceh, Minggu (10/6).

Khenduri Apam (Muhammad Iqbal-I Love Aceh) (3)
Gelaran acara merupakan bagian tradisi untuk mengenalkan kembali kepada masyarakat Aceh bahwa masih ada budaya dari para raja-raja Aceh di bulan Ra’jab yang dikenal sebagai bulen apam.

Khenduri Apam (Muhammad Iqbal-I Love Aceh) (2)
Tidak ketinggalan beberapa wisatawan asal Jerman, Laura dan Sina juga ikut antusias belajar membuat kue apam ditemani keluarga besar dari keuturunan raja Aceh.

Wisatawan Asal Jerman Sering ke Sabang

Banda Aceh, Wisatawan mancanegara asal Jerman mendominasi kunjungan ke sejumlah objek wisata di Kota Sabang, Provinsi Aceh dalam dua bulan terakhir.
“Terjadi peningkatan kunjungan wisman dalam dua bulan terakhir dengan rata-rata antara 20 sampai 30 orang per hari dan didominasi wisman asal Jerman,” kata Kabid Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang M Ali Taufik di Sabang, Selasa (5/6).
Ia menjelaskan, meningkatnya kunjungan wisatawan Eropa khususnya dari Jerman ke daerah tujuan wisata utama di Aceh itu karena didukung penerbangan langsung Malaysia-Aceh.
“Penerbangan langsung dari Malaysia ke Aceh berpengaruh pada peningkatan kunjungan wisman ke Sabang. Apalagi, wisman juga sudah mengetahui tentang potensi wisata di daerah kepulauan ini,” katanya.
Selain itu, menurut dia, peningkatan kunjungan wisman pada periode Mei-Juni 2012 dibandingkan sebelumnya dikarenakan musim panas yang mulai melanda kawasan Eropa.
“Faktor musim panas dan liburan panjang di Eropa membuat mereka melirik untuk berlibur di Indonesia, khususnya ke Sabang. Selama di Sabang para wisatawan itu menikmati keindahan panorama alam bawah laut di kawasan Gapang dan Iboih,” kata dia.(Sumber)

Sejumlah Agenda Wisata Siap Meriahkan Banda Aceh

Banda Aceh. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Reza Fahlevi, mengatakan, pihaknya terus berupaya mendongkrak jumlah wisatawan ke Banda Aceh. Salah satunya menggerlar sejumlah even di tahun 2012 ini yang diharapkan bisa menarik wisatawan mancanegara (wisman) maupun domestik.
“Sejumlah agenda yang sudah siap dilaksanakan, di antaranya pada Juli Banda Aceh Expo, Geulayang Tunang (lomba layang-layang). September akan digelar Festival Krung Aceh dan Kampong China, lalu Aceh Dirt Bike Advanture serta lomba dan pameran foto wisata. Di akhir tahun akan digelar Festival Kopi,” papar Reza kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu (13/6).
Reza berharap, serangkaian even tersebut mampu menggairahkan industry pariwisata di Banda Aceh, sekaligus menjadi langkah awal menyambut Tahun Kunjungan Wisata Aceh 2013.
Ia menambahkan, sejauh ini sejumlah objek wisata religiuus seperti ziarah ke makam-makam ulama, turut mendukung kunjungan tersebut. Di antaranya makam Syiah Kuala yang kerab dikunjungi wisatawan asal Sumatera Barat, Sumatera Utara bahkan Malaysia.
“Selain itu, objek yang banyak dikunjungan yakni wisata tsunami yang terdapat di sejumlah titik di Kota Banda Aceh, seperti PLTD Apung di Punge Blang Cut, perahu di atas rumah warga di Lampulo, serta Museum Tsunami,” kata Reza.

Meningkatkan Wisatawan

Mengenai jumlah kunjungan wisatawan, Reza mengungkapkan hingga awal Juni 2012 sudah menunjukkan tren positif.
“Walaupun jumlah wisatawan baik mancanegara maupun lokal sempat mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir, namun hingga minggu pertama Juni ini diperkirakan jumlah kunjungan wisata ke Banda Aceh mulai meningkat dan bergairah,” katanya.
Dijelaskannya, turunnya kunjugan wisata ke ibukota propinsi itu pada tiga bulan sebelumnya akibat pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan munculnya aksi penembakan di beberapa wilayah Aceh termasuk di BandaAceh.
Reza belum mengungkapkan angka pasti kenaikan tersebut, namun dia menyampaikan angka hingga April 2012 sebanyak 48.890 wisatawan nusantara dan 2.033 wisatawan asing. “Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ada peningkatan sekitar 5%,” jelasnya. (Dedi Irawan/Medan Bisnis)

Menikmati Tarian Langit di Pantai Eumpee Nulu Aceh Besar

Pasir putih nan lembut, cahaya kemerahan dari Matahari yang hendak tenggelam, dan suara deburan ombak adalah perpaduan sempurna untuk mulai menikmati pertunjukan senja di Pantai Eumpee Nulu, Kabupaten Aceh Besar.
Bersamaan dengan pulangnya sang surya menuju peraduannya dan sayup-sayup lantunan suara azan maghrib, langit di atas pantai akan dipenuhi ribuan kelelawar yang memulai aktivitasnya. Suara kepak sayap membahana di angkasa, manuver-manuver unik pun dipertontonkan. Debur ombak seolah menjadi musik mengiringi tarian angkasa hewan-hewan petang ini.
Dari balik bukit batu di bibir pantai Eumpee Nulu, pergerakan ribuan kelelawar ini selalu menjadi daya tarik yang ditunggu setiap wisatawan usai menikmati birunya air laut Eumpee Nulu. Saat gelap beranjak, tubuh pun bisa berisitirahat di sejumlah bungalow yang tersedia. Ingin merasakan suasana lebih eksotis? Hamparan pasir putih siap menjadi permadani hangat bagi yang ingin berbaring di atasnya.
Empee Nulu adalah bagian dari garis pantai Lhoknga dan Lampuuk yang terkenal keindahannya. Pantai ini terletak di Kabupaten Aceh Besar dan menjadi salah satu tujuan wisatawan yang berkunjung ke Aceh. Sempat hancur dihantam gelombang tsunami 2004 yang lalu, pantai ini sekarang bangkit dengan aura kemolekannya. Kehancuran yang melumatkan kehidupan pantai dan sekitarnya seolah tak bersisa.
Kebangkitan Empee Nulu antara lain diprakarsai oleh pemuda setempat bernama Joel. Beberapa bungalow yang berderet di bibir pantai dibangun olehnya. Untuk melengkapinya, Joel juga membuka restoran dengan menu andalan Pizza Italia, di samping menu asli setempat.
Menurut Joel, indahnya Empee Nulu membuatnya yakin pantai ini akan dikunjungi banyak orang. Keyakinannya terbukti saat ini dengan banyaknya kapal berbendera asing merapat di sana. Hampir setiap bulan, dua hingga tiga kapal layar ukuran sedang singgah di kawasan ini. Selain menikmati keindahan, beberapa wisatawan terlihat menikmati ombak dengan papan selancarnya.
Eumpee Nulu berada segaris dengan Pantai Lampuuk dan Pantai Lhoknga yang tak kalah indah. Bahkan sejak setahun lalu, Pantai Lampuuk yang dikenal karena ikan bakar yang harum dan nikmat ini, juga menjadi kawasan konservasi penangkaran penyu. Lokasi pantai-pantai ini hanya berjarak 12-13 kilometer dari pusat ibukota Banda Aceh. Pastikan Anda mampir ke pantai-pantai ini bila berada Aceh, baik untuk menikmati birunya laut, putihnya pasir pantai, atau eloknya pertunjukan senja di langitnya.(Sumber)

Menikmati Mie Apayan Krueng Geukuh

Menginjak tanah Aceh, tak lengkap rasanya tanpa menikmati mi khas Aceh. Di Jakarta saja, mi aceh sudah begitu tenar dan mudah ditemukan.

Nah, jika berkesempatan mampir dan bertandang ke kota Lhokseumawe, cobalah menikmati mi khas Aceh di rumah makan “Mie Apayan”. Letaknya di Jalan Medan-Banda Aceh, Krueng Geukueh, Lhokseumawe, Aceh.
Dari pusat kota Lhokseumawe perlu waktu sekitar 15 menit naik mobil untuk mencapai warung mie ini. Jangan sampai salah mengenali Mie Apayan. Sebab, ada beberapa warung mi serupa di sepanjang jalan tersebut.
Di depan warung, meja panjang sudah berjejer dan kursi-kursi plastik pendek bersandar melengkapinya. Inilah ciri khas warung-warung di Lhokseumawe. Kursi seakan mengajak tamu untuk makan sambil bersantai, menyelonjorkan kaki, dan menikmati makan tanpa tergesa-gesa.
Konon, Mie Apayan inilah mie khas Aceh terenak di Lhokseumawe. Minimal, beberapa penduduk setempat merekomendasikan Mie Apayan sebagai tempat berburu mie khas Aceh.
Apa yang menjadi kekhasan mie Aceh? Jika Anda pernah menikmatinya, tentu sudah tahu jawabannya. Jangan harap bertemu mi dengan kuah kaldu yang polos.
Seperti umumnya masakan Aceh yang kaya rempah, pun begitu dengan mie Aceh. Seakan maruk pada segala bumbu dapur, semua bumbu dimasukkan untuk menghasilkan kuah kaldu yang berempah.
Sebut saja bumbu standar mulai dari merica, bawang merah, dan bawang putih, sampai bumbu eksotis macam kapulaga, jinten, dan bunga lawang. Hasilnya? rasa yang kuat dari beraneka bumbu beradu di mulut. Hentakan panas merica, aroma tajam dari bawang, harum kapulaga, sampai sensasi pedas cabai.
Sekilas di lidah seperti rasa kari. Lalu rasa yang kuat dari kuah bertekstur kental ini berkolaborasi dengan mi tebal yang lembut dan terasa polos. Kombinasi yang pas. Namun, rasa pedas tidak terlalu dominan.
Masakan Aceh cenderung memberikan rasa panas dari merica dibanding rasa pedas dari cabai. Hal ini terasa pula di mie olahan Mie Apayan.
“Masakan Aceh lebih banyak pakai merica dibanding cabai. Makanya, lebih terasa panas di kerongkongan, bukan pedas di lidah seperti makan cabai,” ungkap Aulia, warga asli Lhokseumawe.
Ada beberapa pilihan menu mi di Mie Apayan. Umumnya sama seperti di warung mi lainnya. Penggemar seafood bisa memilih mie dengan padanan cumi, udang, atau kepiting. Bisa juga digabungkan, misalnya mie cumi udang.
Pilihan lainnya adalah mie polos atau mie daging sapi. Makan mie Aceh semakin enak disantap dengan emping dan acar timun-bawang merah. Minumannya bisa pesan jus terong belanda yang menyegarkan. Cocok untuk meredam sedikit “kekuatan” rempah dari mie Aceh.(Sumber)

Pantai Lampu'uk Aceh

Written By T Noval Ariandi on Saturday, 16 June 2012 | 14:05

Pantai ini pernah diabaikan karena terjangan tsunami pada 2006, tapi sekarang sudah ramai dikunjungi oleh wisatawan, terutama pada akhir pekan. Para wisatawan yang datang ke pantai tidak hanya dari wisatawan lokal tetapi juga dari wisatawan asing.

Keindahan panorama alam pantai menjadi magnet bagi wisatawan. Pasir putih yang terletak di pantai membuat lebih cantik. Selain itu, wisatawan yang datang ke sana juga dapat berenang, berjemur di terik matahari, memancing, berlayar, berselancar, dan bahkan menyelam sambil menikmati keindahan bawah lautnya.

Atraksi lain dari kawasan wisata ini adalah Lapangan Golf Seulawah, dengan latar belakang panorama laut. Selain, wisatawan juga dapat menikmati keindahan panorama matahari terbenam yang akan membuat keindahan pantai terlihat lebih eksotis.

Pantai Lampuuk terletak di Kecamatan Lhoknga, Kab.Aceh Besar, Provinsi Aceh. Jarak dari kota Banda Aceh hanya 20 km yang membuat akses ke resor pantai lebih mudah.

Untuk wisatawan yang lebih suka naik kendaraan pribadi, jalur yang bisa dilalui adalah jalur Banda Aceh-Calang (Aceh Jaya) yang hanya membutuhkan waktu setidaknya 20 menit. Sementara itu, wisatawan yang lebih memilih untuk mengambil transportasi umum dapat mengambil arah transportasi publik perkotaan Banda Aceh-Lhok Nga jarak tempuh 35 menit.

Setelah terjangan tsunami, semua fasilitas dan akomodasi yang tersedia di resor pantai juga hancur. Meskipun demikian, wisatawan yang datang resor pantai tidak perlu khawatir tentang itu karena mereka bisa mendapatkan penginapan, restoran, dan fasilitas lainnya di kota Banda Aceh yang tidak terlalu jauh dari resor pantai.(Refernesi)

Dunia Aceh

Aceh adalah salah satu pulau yang menarik di Indonesia. Di masa lalu, Aceh disebut sebagai Daerah Istimewa Aceh  dan berganti menjadi Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2009). Aceh adalah salah satu provinsi Indonesia yang terletak di ujung pulau sumatera Ibukota Aceh adalah Banda Aceh. Pelabuhan Malahayati di Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang, Lhokseumawe, dan Langsa. Aceh menempatkan peringatan besar bagi Indonesia, di mana Aceh mendapat bencana besar pada tahun 2004. Tsunami menyerang sebagian besar Pulau Aceh pada saat itu. Ada lebih dari 100.000 orang yang hilang atau mati, fasilitas umum banyak yang rusak. Tapi sekarang, di Aceh telah terjadi restorasi besar, dan sekarang Aceh berubah menjadi pulau indah lagi. Seiring Aceh, Anda akan melihat bahwa ada banyak sumber daya alam seperti hutan (kayu), minyak bumi, emas, gas alam, kopi, ikan, dan rempah-rempah. Beberapa rempah-rempah herbal di Aceh memiliki fungsi besar sebagai obat herbal. Ketika kita mengunjungi Aceh, kita akan melihat banyak unik sejarah, budaya, dan makanan tradisional yang lezat khusus. Aceh memiliki 5 kota pemerintah, di antaranya Banda Aceh, Langsa, Lhoseumawe, Sabang, dan Subulussalam. Aceh memiliki 18 kabupaten juga. Ketika Anda mengunjungi pulau ini, Anda bisa melihat beberapa budaya yang unik, seni, dan sastra. Di sini mereka memiliki:

Seni dan Budaya-Didong (seni pertunjukan tradisional dari Gayo)-Meuseukee Eungkot (tradisi khusus dari barat Aceh)-Peusijeuk (tradtion khusus dari Melayu)Sastra-Bustanussalatin-Legenda Prang Sabi-Legenda Amat Rhah Manyang-Legenda Putroe NengDi Aceh memiliki senjata khusus yang tampak seperti huruf "L". Nama ini adalah "Rencong". Rumah adat Aceh disebut Rumoh Aceh. Rumah tradisional adalah jenis rumah panggung. Rumah ini memiliki 3 bagian utama dan 1 bagian sebagai tambahan. Mereka 3 bagian utama adalah seuramoรซ keuรซ (lokasi depan), seuramoรซ Teungoh (lokasi tengah) Dan seuramoรซ likot (lokasi belakang). Bagian tambahan disebut rumoh Dapu sebagai bagian dapur. Di Aceh pulau memiliki 10 suku. Ini 10 suku tersebar di seluruh Pulau di Aceh. 10 suku memiliki tarian tradisional mereka sendiri. Tarian tradisional akrab disebut Saman Meuseukat Rateb tari-tarian dan lain Laweut, Lokok Pulo, Pho, Ratoh Duek, Bines, Munalulu. Di Aceh banyak pulau menawarkan wisata seperti pantai. Pantainya sangat indah dan eksotis.(Referensi)

Pantai Lhok Nga'

Hamparan pasir putih yang indah di Lhok Nga membuat pantai ini menjadi tujuan wisata paling di Aceh. Selain itu, wisatawan yang berkunjung ke sana mungkin menemukan beragam karang putih dan keong di pantai berpasir.

Selain menikmati keindahan pemandangan pantai sambil duduk dan bermain pantai berpasir; wisata juga bisa memancing, snorkeling, berjemur, dan berenang. Tapi satu hal yang harus diperhatikan bagi wisatawan perempuan bahwa mereka tidak diperbolehkan untuk berenang dengan bikini.

Tinggi gelombang bisa mencapai 3 km yang menjadi daya tarik bagi wisatawan yang suka surfing. Bagi wisatawan yang tidak membawa papan selancar mereka sendiri tidak perlu khawatir karena pada banyak pantai layanan sewa papan selancar.

Lain keindahan yang dapat dinikmati oleh wisatawan adalah suasana pantai yang tenang di sore hari. Eksotisme ini menjadi lebih sempurna dengan panorama yang indah dari matahari yang perlahan menghilang di ufuk barat.

Lhok Nga terletak di pantai Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar Kabupaten. Lokasi yang dekat dengan Pantai Lampuuk membuat kawasan wisata ini dapat dicapai melalui Banda Aceh - Calang jalur. Jarak dari pantai Lhok Nga dari kota Banda Aceh cukup jauh dibandingkan dengan pantai Lampuuk yang terletak 22 km. Untuk pergi ke sana dapat mengambil 40 menit dengan angkutan umum perkotaan. Sementara jika wisatawan pergi ke sana dengan kendaraan pribadi, hanya membutuhkan 25 menit.

Hal ini tidak terlalu berbeda dengan pantai Lampuuk, sebagian besar fasilitas wisata tersebut hancur akibat tsunami. Meski begitu, wisatawan tidak perlu khawatir tentang makanan dan minuman. Sepanjang pantai ada banyak makanan menjual kios dan minuman. Sedangkan untuk wisatawan yang ingin mengajukan, mereka sebaiknya pergi ke kota Banda Aceh.(Referensi)

Air Terjun Suhom

Sebagai salah satu tujuan wisata di Aceh, banyak wisatawan mengunjungi air terjun Suhom baik lokal maupun asing. Tentu saja, itu karena pemandangan alam di sekitar air terjun. Sekitar air terjun, wisatawan dapat menemukan pohon durian. Oleh karena itu, wisatawan yang datang ke sana di musim durian bisa makan buah durian. Selain menjadi tujuan wisata, air terjun mengamuk nya dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik.

Air terjun ini termasuk wilayah Desa Suhom dan Kreung Kala desa, kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceb Besar, Nanggroe Aceh Darussalam. Lokasi kawasan wisata ini dapat dicapai dari Banda Aceh dengan mengambil transportasi umum yang memakan waktu sekitar satu jam. Rute yang dapat dilalui adalah Banda Aceh - Calang (Aceh Jaya). Sedangkan untuk wisatawan yang pergi ke sana dengan kendaraan sendiri, hanya membutuhkan waktu 45 menit.

Untuk wisatawan yang suka berkemah di seputaran wilayah air tejun Suhom ingin sanagt cocok untuk di jadikan area perkemahan Alias camping.(Referensi)

Danau Laut Tawar

Sebagai satu bagian dari Kepulauan Sumatera, Aceh memiliki banyak potensi untuk dikunjungi. Bila Anda bepergian ke Aceh - Anda bisa mengunjungi salah satu objek pariwisata. Ini adalah Danau Laut Tawar dan begitu akrab di Sumatera Kepulauan dan terutama di Aceh Island. Danau Laut Tawar di Aceh terletak di dataran tinggi Gayo di mana ketinggian 1,250 meter dari laut. Danau ini memiliki sekitar 5,427 hektar lebarnya, dan panjangnya sekitar 17 kilo meter dan lebarnya sekitar 5,5 kilo meter. Danau ini disebut Danau Laut Tawar karena yang luas ini tampak seperti laut. Tapi airnya tidak asin. Salah satu keunikan Danau ini adanya ikan khusus disebut Ikan Depik (Di Indonesia) atau Rasbora Tawarensis (dalam bahasa Latin). Ikan ini hanya ada di Indonesia. Sangat sulit untuk menemukan ikan ini di negara-negara lain.

Ada banyak orang yang melakukan perjalanan ke danau ini. Karena kondisi Danau Laut Tawar di Aceh telah menjadi simbol ikon pariwisata orang Aceh. Di tempat ini, Anda bisa menikmati indahnya panorama alam. Itu keindahan panorama eksotis berasal dari dua bukit yang mengapit danau ini. Ada beberapa kapal motor yang siap untuk membawa Anda melihat-lihat di sepanjang Danau ini. Sementara para wisatawan menikmati panorama yang indah, mereka bisa memancing dan melihat beberapa aktivitas warga sekitar seperti tanam. Suasana tenang nya bisa kehilangan perasaan kita bosan dan lelah jugaObyek wisata ini terletak di sebelah timur Kota Takengon, Nangroe Aceh Darussalam. Para wisatawan yang ingin melakukan perjalanan ke Danau ini, Bisa jadi begitu mudah dengan pergi melalui Kota Bireun, Nangroe Aceh Darussalam. Para wisatawan dapat menemukan terminal kecil yang bisa membawa Anda langsung ke Danau Laut Tawar Danau. Ini menghabiskan sekitar 5 jam. Rute alternatif lain, para wisatawan bisa melalui Blang Kejeren dan Kutacane. Sebagai tempat favorit bagi banyak wisatawan, mereka tidak bisa begitu sulit untuk menemukan beberapa penginapan. Tidak hanya penginapan, wisatawan dapat menemukan beberapa restoran. Di restoran ini, Anda bisa menemukan beberapa menu khusus.(Referensi)

Wisata Kuliner Di Rumah Makan Mie Aceh Seulawah Benhil


Hj. Ratna Dwikora Pemilik Rumah Makan Mie Aceh Seulawah
Hj. Ratna Dwikora Pemilik Rumah Makan Mie Aceh Seulawah

Mie adalah makanan asal Asia yang amat go international dan terkenal. Sejak ribuan tahun lalu mie diciptakan di negeri China dan mie terus beradaptasi dengan berbagai bangsa. Di Indonesia, mie dimodifikasi menjadi beragam masakan. Ada mie aceh, mie makassar, sampai mie item dan mie dari sayuran yang unik. Fenomena mie instan dimana konsumsi mie instan per orang di Indonesi adalah 75 bungkus perbulan yang akhirnya memunculkan berbagai merek di pasar dan gencarnya program marketing dari produsen mulai dari iklan, below the line, above the line mencerminkan mie memang jenis makanan yang fenomenal di Indonesia.
Salah satu pelopor wisata kuliner Aceh adalah Rumah Makan Mie Aceh Seulawah yang dikelola Hj Ratna Dwikora SH (46). Beragam menu Tanah Rencong disajikan antara lain gulai ikan hiu, kepala ikan, keumamah (ikan kayu), paeh engkout bileh (pepes), sayur pliu, sambal ganja, mi aceh dan masih banyak lagi. “Ini adalah masakan rumahan dan menu sehari-hari orang Aceh. Awalnya memang banyak orang Aceh yang makan di sini. Mereka seperti pulang ke rumah dan menyantap masakan ibunya. Belakangan ini selain orang Aceh, banyak juga masyarakat non Aceh yang suka,” kata Ratna Dwikora yang membuka rumah makannya di Bendungan Hilir persis di depan Rumah Sakit TNI AL Mintohardjo atau terletak di Karet Tengsin di belakang Hotel Sahid.
Bondan Winarno Di RM Mie Aceh Seulawah Pada Acara Wisata KulinerHj Ratna Dwikora SH, alumnus Fakultas Hukum Unsyiah mulai buka usaha ini sejak 15 tahun lalu dengan bumbu-bumbu racikan tangan ibundanya, Hj. Fatimah. Pertama kali dibuka pada tahun 1995 di samping Kantor Departemen Agama Jakarta Selatan di daerah Warung Buncit. Sejak 1997 pindah ke Jl KH Mas Masyur Karet Tengsin dan mulai Januari 2003 pindah kelokasi saat ini dengan suasana baru yang full AC sesuai permintaan banyak konsumen setia. Kala itu, ia ingin memulai kuliner yang unik. Apalagi dalam pandangannya, kuliner yang lengkap menyajikan menu Aceh masih bisa dihitung dengan jari. “Saya membuat brosur dan pasang iklan sebulan penuh di koran ibukota untuk memperkenalkan usaha. Saya juga menghubungi kantor komunitas masyarakat Aceh.”.
Dengan peluang usaha yang besar dan pesaing sedikit maka program marketing yang dipilih adalah dengan membuat brosur, pasang iklan dan akhirnya berkembang kearah word of mouth marketing dan dalam waktu relatif singkat usaha Rumah Makan Mie Aceh Seulawah dikenal orang. Ia pertama kali menerima pesanan katering untuk 300 tamu dari wakil jaksa agung. Acara itu juga dihadiri gubernur Sumatera Utara ketika itu, Raja Inal Siregar. Ketika mantan Panglima Aceh Tengku Johan punya hajat di salah satu hotel berbintang, Ratna juga diminta menyediakan salah satu hidangan.
Rumah Makan Mie Aceh Seulawah juga menjadi tempat favorit pejabat, selebriti tanah air hingga pemburu kuliner di Indonesia. Hasil kerja keras dengan melakukan berbagai trik marketing tersebut kini bisa terlihat jelas dengan ditampilkannya beberapa tulisan surat kabar, tabloid dan majalah yang dicetak dalam ukuran besar dijadikan hiasan dinding yang dicat warna krem dicampur coklat. Dinding ruangan juga dihiasi puluhan piring porselen yang memuat kesan dan tanda tangan milik sejumlah orang-orang terkenal Indonesia. Antara lain ada aktor Slamet Rahardjo Djarot, Butet Kertaredjasa, Bondan Winarno, pembawa acara kuliner Trans TV dan lain-lain.
“Hampir semua pejabat Aceh, mulai bupati sampai Pak Gubernur yang setiap kali tugas ke Jakarta sering mampir ke sini. Juga Keluarga Bapak Ibrahim Hasan, Keluarga Bapak Hasan Meutarum, Keluarga Bapak AR Ramli, Keluarga Bapak Bustanil Arifin, Bapak Syamsudin Mahmud, Keluarga Bapak Abdullah Puteh, Bapak Hasbalah M Saad, Bapak Ridwan Ramli. Akhir-akhir ini, Butet Kartaredjasa termasuk rajin ke Rumah Makan Mie Aceh Seulawah. Selebriti lain seperti pasangan Tengku Firmansyah & Cindy , Ibu Ani Sumadi dan Helmy Yahya pun sering datang karena sangat menyukai masakan kami.” kata Ratna Dwikora yang berasal Sigli ini. Untuk membuat masakan Aceh yang kaya bumbu Ratna Dwikora bahkan rela mendatangkan bumbu langsung dari Aceh, mulai dari jintan, kapulaga, lada, jahe, merica, sampai cengkih. “Bumbu khas masakan Aceh adalah asam sunti, ini belimbing sayur yang dikeringkan.”

Mie Aceh Seulawah
Mie-nya berwarna kuning menyala, berdiameter sedang. Kuah kentalnya yang berwarna cokelat mengeluarkan aroma seafood dan herbal kuat, sesuai dengan citarasanya yang juga garang. Secara umum, rasanya seperti kari, tetapi dengan tendangan bawang merah yang lebih mantap. Di Malaysia, mie seperti ini kebanyakan dijual oleh orang India Muslim atau Pakistan, dan dikenal dengan nama Mie Mamak.
Bisa dipesan sebagai mie goreng maupun mie kuah. Bumbunya persis sama, tetapi yang versi kuah ditambah air. Disajikan dengan emping melinjo dan acar bawang merah. Klopnya, menu ini disandingkan dengan jus timun (timun kerok), sesuai dengan konsep yin-yang, yaitu keseimbangan antara bumbu yang kuat dengan minuman yang segar dan menyejukkan. Mi Aceh Spesial dengan seekor kepiting utuh dibandrol Rp 50.000. Tetapi, untuk Mi Aceh dengan lima ekor udang kupas ukuran sedang dapat dinikmati dengan Rp 17.500 saja. Tetapi, bila alergi makanan laut, juga dipesan versi ayam.

Menu Menu Favorit Lain Di Rumah Makan Mie Aceh Seulawah
Salah satu menu favorit Rumah Makan Mie Aceh Seulawah adalah ikan kayu yang semangkuk kecil harganya Rp 7.000. Ini ikan tongkol yang diperlakukan secara istimewa. Setelah direbus, ikan dijemur sampai benar-benar kering. Untuk panas normal, butuh waktu sekitar empat hari sampai ikan mengeras seperti kayu. “Bisa tahan sampai setahun, lho. Nah, sebelum dimasak, ikan direndam dulu semalaman. Setelah empuk, diserut kecil-kecil dan dimasak tumis kering atau dimasak bersama cabai hijau. Pada mulanya ikan kayu ini adalah makanan untuk dibawa sebagai bekal untuk perang melawan penjajah.
Menu favorit lainnya sayur pliu yang dipatok harga Rp 10.000. Ada lagi sambal ganja yang harganya Rp 8.000. Bukan ganja beneran tapi sambal ganja yang dibuat dari udang rebus plus bumbu-bumbu segar. “Rasanya pedas segar. Setelah makan, membuat orang terkantuk-kantuk. Makanya dibilang seperti ganja. Yang juga khas adalah ikan hiu, seporsi Rp 20.000
Menu favorit pengunjung adalah Bebek Gule dan Kari Kambing. Bebek dimasak dengan cara digulai dengan bumbu khas Aceh yang pekat dan legit ini merangsang selera makan. Disantap bersama nasi putih hangat atau dimakan begitu saja sama enaknya. Daging kambing diolah bersama bumbu kari ini juga tak kalah sedap. Dimakan bersama nasi putih atau roti cane, yaitu terbuat dari kulit martabak yang digoreng, juga maknyus.
Putu kuah adalah menu khusus yang disediakan Rumah Makan Mie Aceh Seulawah yang terletak di Jalan Bendungan Hilir (Benhil) Jakarta dan dalam sehari rumah makan khas Aceh itu menyediakan 40-60 lembar putu dengan kuah rasa durian atau nangka. Per porsi dijual Rp 10.000. Putu kuah tersebut dibuat dari tepung ketan dan disiram dengan kuah santan yang dicampur dengan adonan buah durian atau nangka.
Yang pantas juga dipesan air mentimun atau rujak Aceh di rumah makan ini Air mentimun yang segar dan Rujak Aceh seperti rujak serut, namun berkuah bening dan sedikit pedas, memang cocok untuk dijadikan penutup usai bersantap sajian yang berbumbu pekat ini. Selagi menunggu pesanan, nikmati dulu Timphan atau kudapan yang terbuat dari tepung beras berisi sarikaya yang beraroma nangka dan dibungkus daun pisang muda yang gurih sebagai perangsang selera makan.
Setiap hari, sejak pukul 16.00 WIB sampai tiba jam tutupnya, rumah makan ini juga menggelar tenda di bagian depan yang menyediakan Mi Aceh, Martabak Aceh, serta Nasi Goreng Kambing. Untuk Mi Aceh Seulawah, pengunjung dapat memesan berupa mi goreng, mi rebus atau mi kuah. Uniknya mi yang dipakai dibuat sendiri. Berwarna kuning kunyit, mi ini tidak mengembang saat diolah dan terasa mulur ketika disantap.
Khusus hari Jumat Rumah Makan Mie Aceh Seulawah menyediakan Nasi Briyani, seperti nasi kuning dengan bumbu pekat dan potongan daging kambing, yang dijual per porsi Rp. 9.000. Selain dimakan di tempat, Nasi Briyani ini juga dapat dipesan untuk dibawa pulang.
Jangan menyebut diri pecinta kuliner, apabila belum sempat mencoba menu-menu favorit dari Rumah Makan Mie Aceh Seulawah ini. Ayo segera kunjungi:
RUMAH MAKAN MIE ACEH SEULAWAH
  • Menyediakan Hidangan Khas Aceh
  • Layanan Pesan Antar (Delivery Service)
  • Nasi Kotak Hidangan Nasional ataupun Aceh
  • Catering Service Lengkap
  • Katering Pesta Pernikahan
Jl. Bendungan Hilir Raya 8 – Jakarta Pusat
Depan Rumah Sakit TNI AL Mintohardjo
Telepon: 021 5708660
TESTlMONIAL:
Setelah mencoba desain logo sendiri dan dilombakan secara internal perusahaan gak ada hasil yang memuaskan, kami menemukan situs. Semula coba-coba dulu membuat desain logo untuk usaha kami, 3 hari kemudian kami dikirim hasil desain logo pertamanya. Terkejut juga ya, karena desain dan paduan warnanya sangat cocok dengan keinginan kami seperti yang kami tuangkan dalam kreatif brief yaitu CANTIK dan ELEGAN sehingga beberapa perubahan berikutnya hanya tinggal revisi kecil-kecilan saja. Kami sangat senang dengan kerja tim Akarapi Indonesia. – Heru & Retno Dwikora
 
(Sumber)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Wisata Aceh - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger